Sebagai anak istimewa, wajar jika mendampingi serta mendidik dan mengajar mereka juga tidak boleh biasa-biasa saja alias asal jalan. Dalam dunia pendidikan, konsep mengajar untuk anak berkebutuhan khusus disebut dengan orthopaedagogik. Yaitu pendidikan bagi anak luar biasa/ pendidikan anak berkelainan.
Kelainan/ ketunaan yang dialami anak berkebutuhan khusus pasti membawa konsukensi tersendiri bagi penyandangnya, baik secara keseluruhan maupun sebagian, baik yang bersifat obektif maupun subyektif. Kondisi tersebut membawa dampak yang kurang menguntungkan baik secara psikologis maupun psikososialnya.
Kondisi
tersebut meniscayakan adanya pendekatan dan strategi tertentu dalam mendidik
anak berkebutuhan khusus. Sehingga mereka dapat menerima kondisinya, mampu
melakukan sosialisasi yang baik dengan lingkunganya, mampu berjuang sesuai
kemampuannya serta memiliki dan menguasai ketrampilan yang sangat dibutuhkan
dalam kehidupan sehari-hari.
Beberapa
ahli mengemukakan Prinsip tertentu sebagai pendekatan khusus yang dapat
digunakan dalam mendidik anak berkelainan. Diantaranya adalah :
1. Prinsip
kasih sayang; yaitu tidak memanjakan, tidak acuh terhadap kebutuhannya, serta
memberi tugas sesuai kemampannya.
2. Prinsip
layanan individual; yaitu dengan membatasi satu guru untuk 4-6 anak tiap kelas,
kurikulum yang fleksiel, pengelolaan kelas yang menjangkau semua anak.
3. Prinsip
kesiapan; yaitu memperhatikan ketrampilan atau kemampuan prasyarat sebelum
mendapatkan kemampuan dan ketrampilan lanjutan.
4. Prinsip
motivasi; yaitu lebih menitikberatkan pada cara menyampaikan. Bukan sekedar
hasil belajar.
Prinsip-prinsip
tersebut akan bisa berdampak optimal ketika dijalankan dengan sepenuh hati.
Karena mengajar tidak sekedar tersampaikannya sejumlah kurikulum atau memiliki
kompetensi akademik yang memadai. Tapi sekaligus membangun kedekatan, menjalin
ikatan, hingga pembelajaran tidak terasa hambar dan mampu menyentuh “hati”
anak.
Pembelajaran
yang menyentuh “hati” itu penting. Bahkan bisa dikatakan harus. Sebagaimana
sebuah hadist : “Ingatlah bahwa ada
di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik maka baik pula seluruh
jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah
hati.” (HR Bukhari).
Para
ulama’ mengatakan, bahwa hati adalah rajanya anggota badan sedangkan anggota
badan adalah tentaranya. Dari hadist tersebut Ibnu Batthol dan Imam Nawawi rahimahullah
menyimpulkan bahwa akal dan kemampuan memahami pusatnya adalah di hati, bukan
di otak (kepala).
Oleh
karenanya, tidak berlebihan kalau seorang guru harus menyentuh hati anak
terlebih dahulu sebelum memulai mengajar. Menyentuh hati berarti berusaha
memahami kondisinya. Hingga guru tidak sekedar menjadi “guru” tapi sekaligus
menjadi orangtua bahkan sebagai sahabat.
Ada
beberapa tips sederhana agar dapat “menyentuh” hati anak, yaitu :
1. Niat
Niat adalah dasar atas semua
perbuatan. Sebagaimana sabda Rasulullah: “Sesungguhnya amal-amal itu
tergantung niatnya” (HR Bukhari). Mengajar adalah amal dunia. Namun jika
kita meniatkannya sebagai ibadah mencari ridha Allah, maka akan menjadi amal
akhirat.
Ketika
mengajar diniatkan karena Allah, maka guru akan menjadikan Allah sebagai
tujuannya. Keikhlasan akan terbangun dan pujian orangtua atau siapapun tidak
menjadi sesuatu yang dicarinya.
2. Mengajar
adalah amanah
Ketika mengajar dimaknai
sebagai amanah, maka guru akan menjalankan amanah tersebut dengan
sebaik-baiknya. Karena dia yakin, tidak hanya kepada manusia (kepala sekolah
dan orangtua) saja amanah itu dipertanggungjawabkan. Tapi yang lebih utama
adalah Allah SWT akan meminta pertanggungjawaban atas setiap amanah.
Bahkan guru akan menjauhkan diri untuk tidak amanah.
Karena seorang muslim yang tidak amanah, bisa tergelincir pada sifat-sifat
orang munafiq.
3. Menempatkan
peserta didik seperti anak sendiri
Tiada yang memiliki ketulusan mendidik melebihi orangtua
yang shalih. Ketika guru menempatkan dirinya sebagai orangtua bagi peserta
didiknya, maka dia akan berupaya dengan sangat keras dalam mendidiknya. Tidak
mudah menyerah jika ada kesulitan, berlapang dada jika ada kesalahan, serta
menjadikan kasih sayang sebagai dasar dalam setiap bimbingan.
Kasih sayang tidak selalu
berarti memanjakan. Tapi setiap aktivitas yang dilakukan berorientasi jangka
panjang untuk kebaikan anak.
4. Tidak
sekedar mengajar
Sesunguhnya kebutuhan
peserta didik, termasuk diantaranya anak bekebutuhan khusus tidak sekedar
kemampuan akademik. Mereka memiliki sisi kepribadian yang juga perlu disentuh.
Luangkan waktu khusus untuk menyapa sisi pribadi mereka. Tanamkan juga
ketrampilan hidup, bahwa kita semua akan bertanggungjawab atas hidupnya secara
mandiri.
Terkait akademik, hendaknya
para guru senantiasa mengingat bahwa setiap anak memiliki kemampuan yang
berbeda. Jangan sampai anak dituntut jauh dari kemampuannya. Jangan sampai juga
anak terlalu dibiarkan “semaunya” hingga potensi yang dimiliki terbuang
cuma-cuma.
5. Ada
pahala yang tak terputus
Rasulullah SAW menyampaikan;
“Jika seseorang anak adam meninggal dunia, maka terputuslah amalannya
kecuali tiga perkara (yaitu): Sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak
yang shaleh” (HR Muslim).
Guru adalah profesi
istimewa. Karena mengajar berarti menyebarkan ilmu yang menjadi ladang pahala
yang tiada pernah putus. Bukankah ini adalah sebuah kesempatan besar yang tidak
dimiliki oleh semua orang?
Seorang guru yang memahami
penuh kedudukan profesinya, pasti akan melakukan aktivitas mengajar dengan
sebaik-baiknya. Karena murid yang ada di hadapannya adalah ladang pahala
baginya. Mungkinkah dia akan menanam keburukan di ladang yang akan dipanennya
kelak di yaumul hisab?
6. Sertakan
doa
Rasulullah
bersabda: “Sesungguhnya doa itu adalah senjata bagi orang yang beriman,
tiang agama, dan sinar langit dan bumi”. (HR. Abu Ya’la)
Ketika
semua upaya sudah dilakukan, maka ikhtiyar penutupnya adalah doá. Doa yang tulus dan ikhlas insyaAllah akan
diijabah. Sertakan anak-anak dalam setiap doa kita, di waktu yang mustajabah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar