Jumat, 02 Oktober 2020

Sentuh Tepat Di Hatinya

             


               Sebagai anak istimewa, wajar jika mendampingi serta mendidik dan mengajar mereka juga tidak boleh biasa-biasa saja alias asal jalan. Dalam dunia pendidikan, konsep mengajar untuk anak berkebutuhan khusus disebut dengan orthopaedagogik. Yaitu pendidikan bagi anak luar biasa/ pendidikan anak berkelainan.

Kelainan/ ketunaan yang dialami anak berkebutuhan khusus pasti membawa konsukensi tersendiri bagi penyandangnya, baik secara keseluruhan maupun sebagian, baik yang bersifat obektif maupun subyektif. Kondisi tersebut membawa dampak yang kurang menguntungkan baik secara psikologis maupun psikososialnya.

Kondisi tersebut meniscayakan adanya pendekatan dan strategi tertentu dalam mendidik anak berkebutuhan khusus. Sehingga mereka dapat menerima kondisinya, mampu melakukan sosialisasi yang baik dengan lingkunganya, mampu berjuang sesuai kemampuannya serta memiliki dan menguasai ketrampilan yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari.

Beberapa ahli mengemukakan Prinsip tertentu sebagai pendekatan khusus yang dapat digunakan dalam mendidik anak berkelainan. Diantaranya adalah :

1.    Prinsip kasih sayang; yaitu tidak memanjakan, tidak acuh terhadap kebutuhannya, serta memberi tugas sesuai kemampannya.

2.    Prinsip layanan individual; yaitu dengan membatasi satu guru untuk 4-6 anak tiap kelas, kurikulum yang fleksiel, pengelolaan kelas yang menjangkau semua anak.

3.    Prinsip kesiapan; yaitu memperhatikan ketrampilan atau kemampuan prasyarat sebelum mendapatkan kemampuan dan ketrampilan lanjutan.

4.    Prinsip motivasi; yaitu lebih menitikberatkan pada cara menyampaikan. Bukan sekedar hasil belajar.

 

Prinsip-prinsip tersebut akan bisa berdampak optimal ketika dijalankan dengan sepenuh hati. Karena mengajar tidak sekedar tersampaikannya sejumlah kurikulum atau memiliki kompetensi akademik yang memadai. Tapi sekaligus membangun kedekatan, menjalin ikatan, hingga pembelajaran tidak terasa hambar dan mampu menyentuh “hati” anak.

Pembelajaran yang menyentuh “hati” itu penting. Bahkan bisa dikatakan harus. Sebagaimana sebuah hadist :  “Ingatlah bahwa ada di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati.” (HR Bukhari).

Para ulama’ mengatakan, bahwa hati adalah rajanya anggota badan sedangkan anggota badan adalah tentaranya. Dari hadist tersebut Ibnu Batthol dan Imam Nawawi rahimahullah menyimpulkan bahwa akal dan kemampuan memahami pusatnya adalah di hati, bukan di otak (kepala).

Oleh karenanya, tidak berlebihan kalau seorang guru harus menyentuh hati anak terlebih dahulu sebelum memulai mengajar. Menyentuh hati berarti berusaha memahami kondisinya. Hingga guru tidak sekedar menjadi “guru” tapi sekaligus menjadi orangtua bahkan sebagai sahabat.

Ada beberapa tips sederhana agar dapat “menyentuh” hati anak, yaitu :

1.    Niat

Niat adalah dasar atas semua perbuatan. Sebagaimana sabda Rasulullah: “Sesungguhnya amal-amal itu tergantung niatnya” (HR Bukhari). Mengajar adalah amal dunia. Namun jika kita meniatkannya sebagai ibadah mencari ridha Allah, maka akan menjadi amal akhirat.

Ketika mengajar diniatkan karena Allah, maka guru akan menjadikan Allah sebagai tujuannya. Keikhlasan akan terbangun dan pujian orangtua atau siapapun tidak menjadi sesuatu yang dicarinya.

2.    Mengajar adalah amanah

Ketika mengajar dimaknai sebagai amanah, maka guru akan menjalankan amanah tersebut dengan sebaik-baiknya. Karena dia yakin, tidak hanya kepada manusia (kepala sekolah dan orangtua) saja amanah itu dipertanggungjawabkan. Tapi yang lebih utama adalah Allah SWT akan meminta pertanggungjawaban atas setiap amanah.

Bahkan guru akan menjauhkan diri untuk tidak amanah. Karena seorang muslim yang tidak amanah, bisa tergelincir pada sifat-sifat orang munafiq.

3.    Menempatkan peserta didik seperti anak sendiri

Tiada yang memiliki ketulusan mendidik melebihi orangtua yang shalih. Ketika guru menempatkan dirinya sebagai orangtua bagi peserta didiknya, maka dia akan berupaya dengan sangat keras dalam mendidiknya. Tidak mudah menyerah jika ada kesulitan, berlapang dada jika ada kesalahan, serta menjadikan kasih sayang sebagai dasar dalam setiap bimbingan.

Kasih sayang tidak selalu berarti memanjakan. Tapi setiap aktivitas yang dilakukan berorientasi jangka panjang untuk kebaikan anak.

4.    Tidak sekedar mengajar

Sesunguhnya kebutuhan peserta didik, termasuk diantaranya anak bekebutuhan khusus tidak sekedar kemampuan akademik. Mereka memiliki sisi kepribadian yang juga perlu disentuh. Luangkan waktu khusus untuk menyapa sisi pribadi mereka. Tanamkan juga ketrampilan hidup, bahwa kita semua akan bertanggungjawab atas hidupnya secara mandiri.

Terkait akademik, hendaknya para guru senantiasa mengingat bahwa setiap anak memiliki kemampuan yang berbeda. Jangan sampai anak dituntut jauh dari kemampuannya. Jangan sampai juga anak terlalu dibiarkan “semaunya” hingga potensi yang dimiliki terbuang cuma-cuma.

5.    Ada pahala yang tak terputus

Rasulullah SAW menyampaikan; “Jika seseorang anak adam meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): Sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak yang shaleh” (HR Muslim).

Guru adalah profesi istimewa. Karena mengajar berarti menyebarkan ilmu yang menjadi ladang pahala yang tiada pernah putus. Bukankah ini adalah sebuah kesempatan besar yang tidak dimiliki oleh semua orang?

Seorang guru yang memahami penuh kedudukan profesinya, pasti akan melakukan aktivitas mengajar dengan sebaik-baiknya. Karena murid yang ada di hadapannya adalah ladang pahala baginya. Mungkinkah dia akan menanam keburukan di ladang yang akan dipanennya kelak di yaumul hisab?

6.    Sertakan doa

Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya doa itu adalah senjata bagi orang yang beriman, tiang agama, dan sinar langit dan bumi”.  (HR. Abu Ya’la)

Ketika semua upaya sudah dilakukan, maka ikhtiyar penutupnya adalah doá.  Doa yang tulus dan ikhlas insyaAllah akan diijabah. Sertakan anak-anak dalam setiap doa kita, di waktu yang mustajabah.

Jadi, mari kita sentuh mereka dengan hati, dengan kasih, agar apa yang kita ajarkan bisa tersampaikan tepat seperti apa yang kita maksudkan. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Saatnya Kau Bangga

Mama papa ayah bunda Aku baik saja Tetaplah tersenyum Seperti aku.. Mama papa ayah bunda Tetaplah membara Semangat di dada Jangan pernah sir...