Jumat, 02 Oktober 2020

Ketika Dipandang Sebelah Mata

 



“O, ternyata guru SLB juga bisa komputer ya?”, begitu celetukan salah seorang rekan guru sekolah umum beberapa tahun silam ketika kami sama-sama mengikuti sebuah kegiatan training dimana salah satu materinya tentang pembelajaran digital, yang mengharuskan kami praktek mandiri.

Meski tidak siap dengan pernyataan seperti itu, namun dari sanalah akhirnya nampak bahwa ternyata tidak sekedar anak berkebutuhan khusus saja yang masih dianggap “berbeda” tetapi sekaligus guru pendampingnya.

Tidak dipungkiri bahwa anak berkebutuhan khusus memang berbeda secara fisik dari anak-anak sebayanya. Ketika anak normal sudah berlari, anak tunagrahita bisa jadi masih belajar merangkak atau berjalan. Ketika anak normal sudah bisa bercerita panjang lebar, anak tunarungu masih belajar berbicara.

Tidak hanya itu, bahkan secara akademik jenis ketunaan tertentu memiliki perkembangan yang jauh dari anak dengan normal sebayanya. Pada umumnya anak berkebutuhan khusus membutuhkan pengulangan yang lebih banyak dibanding anak-anak normal.

Begitupun terkait dengan kemampuan merawat diri atau kemandirian. Sehingga kita tidak bisa kita tidak bisa langsung melepas anak berkebutuhan khusus tersebut secara penuh. Tetap dibutuhkan pendampingan,  meski di usia dewasa.

Dari sinilah akhirnya anak-anak kurang bisa diterima oleh lingkungan. Mereka masih termarginalkan. Tak jarang mereka dijadikan bahan olok-olok atau dijadikan “candaan”. Perlakuan tersebut membuat mereka tumbuh dengan suasana psikologis yang tidak sehat. Mereka menjadi minder, tidak bisa berkembang, atau bahkan sebaliknya. Mereka menjadi anak yang susah dikendalikan.

Munculnya sekolah Inklusi yang diharapkan mengurangi jarak antara anak berkebutuhan khusus dan anak normal juga belum serta merta menghilangkan stereotip tersebut. Bahkan tidak jarang para orangtua memilihnya untuk “menghindari” sekolah reguler (SLB). Karena sekolah reguler masih belum “mendapatkan tempat” di masyarakat.  Bukankah ini semakin menunjukkan bahwa anak berkebutuhan khusus itu “berbeda”?

Sungguh, perbedaan tersebut tidaklah tepat dijadikan alasan memandang mereka sebelah mata. Karena apa yang terjadi pada mereka bukanlah sesuatu yang bisa dipilih. Baik oleh orangtua mereka maupun mereka sendiri. Semua adalah qodho yang tak mungkin bisa ditawar ataupun ditolak. Sebagaimana kita tidak pernah bisa memilih lahir dengan berjenis kelamin perempuan ataukah laki-laki.

Jika ke “ABK”an bukan pilihan, layakkah kita menjadikan hal tersebut sebagai persyaratan diterima atau tidaknya di tengah masyarakat? Tentu saja tidak. Mereka adalah anak-anak yang sama dengan anak sebaya mereka lainnya. Mereka butuh pengakuan, penerimaan, pelayanan yang sama, serta kesempatan yang sama dalam mendapatkan pekerjaan. Tentu saja sesuai dengan kemampuan mereka.

Mari kita rangkul mereka, bukan sekedar memberikan belas kasihan padanya. Karena belas kasihan hanya akan melemahkan. Mereka juga harus belajar tanggung jawab, makna peduli, arti berbagi. Bahkan amar ma’ruf nahi munkar. Yang semua hal tersebut bisa jadi belum tuntas saat belajar di jenjang sekolah. Hingga perlu remedial atau pengayaan di sekolah besar yang bernama masyarakat.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Saatnya Kau Bangga

Mama papa ayah bunda Aku baik saja Tetaplah tersenyum Seperti aku.. Mama papa ayah bunda Tetaplah membara Semangat di dada Jangan pernah sir...